TERBANGUN DI DASAR JURANG
TERBANGUN DI DASAR JURANG
Awan hitam pekat menggantung tebal malam itu, bulan yang belum sempurna tanggal 10 muharram atau lebih sering disebut malam 1 suro tampak seperti bercak yang mengintip dari gelapnya langit malam. Tampak 3 orang terengah engah duduk di tengah tengah trek pendakian gunung cemara. Gunung cemara adalah gunung yang akhir akhir ini populer untuk di daki baik oleh pemula atau pendaki profesional yang sekedar rindu dengan keindahan gunung cemara. karena sering ramai, 3 pendaki ini memilih malam 1 suro untuk mendaki, karena hanya pada hari tersebut kuota pendaftaran tidak penuh. Karena terlalu capek, sesampainya di pos 5 ketiga pendaki ini memutuskan untuk berhenti dan nge camp disana.
***
Api unggun menyala hebat ditengah kepungan 3 orang yang bernama andi,
chika dan rul. Di tengahnya menggantung sebuah ketel untuk memasak air yang
nantinya dibuat segelas kopi atau teh untuk menghangatkan tubuh mereka bertiga
yang sedang ngecamp di pos 5 untuk keesokannya menuju puncak gunung cemara. Dinginnya
suasana gunung membuat chika, satu-satunya cewek di kelompok tersebut sering
menggosok lengan dan telapak tangannya, meskipun tubuh mungilnya sudah memakai
pakaian lengkap untuk menahan dinginnya hawa pegunungan, tetap saja hawa dingin
itu berhasil masuk seakan menembus tulang tulangnya. Andi dan Rul yang sedari
tenda sudah didirikan lebih memilih berada diluar tenda dan menyiapkan logistic
agar segera bisa disantap dan sedikit menghangatkan tubuh mereka bertiga.
Setelah air di ketel mendidih, Andi lekas menuangkan air pada dua
cangkir kopi dan satu cangkir teh, mengaduknya dan memberikan sartu cangkir
kopi pada Rul dan satu cangkir teh untuk Chika. Setidaknya satu cangkir minuman
malam ini sedikit menghangatkan tubuh mereka.
“aku semalam mimpi” celetuk Andi berusaha menghangatkan suasana dan
memecah keheningan.
“mimpi apa?” tanya Rul, Chika tetap tak bergeming dari posisi memeluk
lututnya.
“entah karena mungkin aku terlalu semangat untuk berangkat esoknya
muncak, jadi terbawa mimpi di malam harinya, di dalam mimpi kita gak berangkat
bertiga tapi berlima, dan aku gak kenal sama sekali dengan yang dua ini, lu
bilang kalo yang cowok ini temenlu dan satunya cewek temennya Chika, jadi gua
oke oke aja sih”
“eh, gua emang ada niatan ajak temen sih, tapi gajadi.”
“beneran?’ tanya Andi heran
“iya, tapi gajadi” jawab Rul
“tapi gamungkin sih kalo temenlu, soalnya pakaian mereka norak”
“norak gimana?”
“ya kali ke gunung pakai baju kuno, yang cowok pakai pakaian lusuh dan
yang cewek pakai semacam kebaya”
“terus, terus?” tanya Rul yang mulai tertarik dengan cerita Andi
“jadi kita berlima tetap lanjut mendaki, dan herannya di mimpi gua dua
orang ini nggak ada sewaktu di basecamp dan ketika naik kita malah ketemu
mereka di pos 2”
“Sslluuuuurrrpppp” Andi menyeruput kopinya kemudian lanjut bercerita
“nah dari situ perjalanan ke puncak tuh kayak cepet banget, lalu sewaktu
turun kedua orang tersebut ilang lagi dan kita bertiga malah nyasar ke jurang,
nah dari situ akhirnya gua bangun’
“untungnya Cuma mimpi ya” tukas
Rul untuk menutupi rasa takutnya.
“iya hahaha” Andi tertawa menanggapi sikap Rul yang ketakutan
Seketika angin berhembus kencang, mengoyakkan ranting pepohonan sehingga
menimbulkan suara alam yang amat berisik. Mereka bertiga terdiam sambil
menggosok gosok tubuh agar tetap menjaga suhu tubuh tetap hangat. Setelah
berlalu, suasana tiba tiba hening mencekam, suara jangkrik yang sedari
mendirikan tenda menemani kini hening tak tersisa, tak ada sedikitpun suara
angin berhembus padahal mereka berada di ketinggian seribu mdpl lebih. Mereka
bertiga tidak sadar jika suatu hal buruk sedang terjadi.
Derap suara kaki tiba tiba terdengar dari kejauhan, ternyata langkah
kaki pendaki lain yang akan sampai di pos 5, Andre berusaha menyapa ke lima
pendaki yang baru sampai tersebut.
“rombongan dari mana?” teriak Andi berusaha menyapa
Entah karena apa, kelima pendaki tersebut tidak menjawab pertanyaan
Andi bahkan mereka tidak sedikitpun mencari sumber suara. Karena pertanyaannya
dihiraukan, Andi pun memilih diam dan melihat rombongan pendaki tersebut
mendekat. Anehnya ketika jarak kedua rombongan ini berdekatan, tak sedikitpun
dari kelima pendaki yang baru datang ini melihat kepada Andi dan kawan-kawan,
seterusnya rombongan baru ini bahkan menabrak api unggun yang menyala hebat tetapi
tak memporak porandakan posisi api unggun tersebut.
Andi dan Rul berteriak keras untuk memperingati kelima pendaki ini.
“Mas.....” ucap keduanya dengan suara lantang.
Setelah sadar bahwa api unggun mereka tidak kocar kacir sedikitpun,
Andi dan Rul tertegun kemudian melihat ke arah chika perlahan, Chika yang
sedari tadi hanya diam, menunduk dan memeluk lutut perlahan mengangkat kepalanya,
matanya menyala merah dan wajahnya pucat dengan ekspresi datar, berucap
“Andi, sebenarnya itu bukan mimpi” terdengar suara chika padahal dia
tidak bergumam sedikitpun
Andi dan Rul saling tatap, kemudian semuanya gelap.
Angin kembali berhembus pelan, suara serangga kembali bersautan
menentramkan kembali peristiwa mengejutkan tersebut.
***
Setelah mandi, dengan tetap mengikatkan handuk dirambut, Chika berjalan
ke arah tempat tidurnya, mengambil hp yang tergeletak asal di atas ranjang lalu
duduk didepan meja riasnya. Setelah 2 menit scroll tiktok, Chika dikagetkan
dengan notif yang mengambang di bagian atas hp nya, berita itu bertuliskan “DI
DUGA MENCARI JALAN PINTAS, TIGA ORANG PENDAKI DINYATAKAN HILANG”. Karena
penasaran, Chika membuka berita tersebut. Tanpa mengalihkan pandangan dari hp
nya, Chika tiba-tiba menangis sejadi-jadinya, salah satu tangan menutupi
mulutnya, dengan lirih dan dengan terbata-bata dia berkata "Andi, katanya
kita gajadi naik gunung, kenapa loe bohongin gue?”
TAMAT